Hari Pers Nasional: Antara Tema Besar dan Realitas yang Pahit

Ragam

Hari Pers Nasional kembali datang dengan deretan tema besar. Tahun ini: “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.” Kalimatnya terdengar megah, nyaris sempurna. Masalahnya, realitas di lapangan sering kali tidak semegah bunyinya.

Pers disebut sebagai pilar demokrasi. Tapi pilar yang rapuh jelas sulit menopang apa pun. Di tengah tekanan politik, himpitan ekonomi, dan gempuran platform digital global, banyak media justru sibuk bertahan hidup—bukan lagi sepenuhnya bertahan pada idealisme. Integritas masih dijunjung, tentu saja. Setidaknya di atas kertas.

Pers sehat bukan cuma bebas tekanan kekuasaan, tetapi juga bebas dari kepentingan pemilik modal, klik murahan, dan judul bombastis tanpa isi. Sayangnya, ketika pendapatan iklan menurun dan algoritma lebih menentukan nasib berita daripada kualitas jurnalistik, kesehatan pers sering terdengar seperti harapan—bukan kenyataan.

Kedaulatan ekonomi pers juga kerap dibicarakan seolah sesuatu yang sudah dekat. Padahal, selama ekosistem media masih bergantung pada segelintir kekuatan modal dan arus distribusi informasi dikuasai platform asing, kata “berdaulat” terasa lebih mirip cita-cita panjang daripada kondisi hari ini.

Tanpa pers yang benar-benar mandiri, kontrol terhadap kekuasaan mudah melemah. Kritik bisa tumpul, pengawasan bisa longgar, dan publik akhirnya disuguhi informasi yang aman bagi penguasa—bukan yang penting bagi masyarakat. Dari titik itu, bangsa kuat tinggal slogan upacara.

Di era banjir informasi, semua orang bisa menjadi penyampai kabar. Bedanya, tidak semua mau repot memeriksa kebenaran. Di sinilah pers profesional seharusnya berdiri paling depan: tidak sekadar cepat, tapi tepat. Tidak sekadar ramai, tapi dapat dipercaya. Jika fungsi ini ikut larut dalam arus sensasi, maka publik kehilangan kompasnya.

Kepercayaan adalah satu-satunya mata uang yang benar-benar dimiliki pers. Sekali habis, tidak ada bailout. Tidak ada subsidi kepercayaan. Yang ada hanya ditinggalkan pembaca secara perlahan—tanpa pengumuman.

Hari Pers Nasional seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan dengan spanduk dan pidato optimistis. Ia mestinya jadi momen jujur untuk bertanya:

  • apakah pers kita benar-benar sehat, atau hanya terlihat sibuk?
  • apakah sudah berdaulat, atau sekadar bertahan?
    apakah masih berpihak pada publik, atau mulai nyaman dekat kekuasaan?

Tantangan ke depan jelas tidak ringan. Kecerdasan buatan, perubahan perilaku pembaca, dan disrupsi bisnis media akan terus mengguncang. Adaptasi memang wajib. Tapi jika dalam prosesnya nilai dasar jurnalistik ikut dikorbankan, yang tersisa bukan transformasi—melainkan kehilangan arah.

Pada akhirnya, harapan terhadap pers sebenarnya sederhana: tetap jujur, tetap independen, dan tetap berpihak pada kepentingan publik. Tidak muluk. Tapi justru itu yang paling sulit dijaga.

Selamat Hari Pers Nasional.
Semoga pers Indonesia bukan hanya panjang umur, tetapi juga benar-benar sehat.

Annas Nashrullah, Penulis adalah Jurnalis Media Online Lokal