Annas Nashrullah, Dari Santri Darunnajah hingga Membangun Media Lokal di Subang

Ragam

SUBANG, — Pengalaman panjang di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta menjadi salah satu bekal Annas Nashrullah dalam menekuni dunia jurnalistik. Dari seorang santri, mahasiswa, pegawai hingga tenaga pengajar, Annas kemudian terjun sebagai wartawan pada 2006 dan kini fokus membangun media lokal TINTAHIJAU.COM di Kabupaten Subang.

Annas memulai karier jurnalistik pada 2006 sebagai wartawan Seputar Indonesia edisi Jawa Barat. Pada periode yang sama, lulusan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta tersebut juga menjadi kontributor okezone.com.

Sebelum memasuki dunia pers, Annas telah menjalani berbagai peran di lingkungan Darunnajah. Ia mengawali perjalanan sebagai santri, kemudian melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa, bekerja sebagai pegawai hingga menjadi tenaga pengajar.

Pengalaman tersebut menurut Annas memberikan bekal dalam membangun kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

“Pengalaman di pesantren memberikan banyak bekal dalam perjalanan saya. Dari menjadi santri, mahasiswa, pegawai sampai mengajar, saya belajar disiplin, tanggung jawab, berkomunikasi dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang,” ujar Annas.

Kariernya di media di bawah naungan MNC Group berlangsung dari 2006 hingga 2010. Setelah itu, Annas memilih keluar dan mulai merintis media sendiri.

Pada 2011, ia sempat terlibat sebagai kontributor INILAH KORAN dan inilah.com. Namun, tidak berlangsung lama, Annas kemudian memutuskan fokus membangun dan membesarkan TINTAHIJAU.COM di Kabupaten Subang.

Keputusan tersebut menjadi langkah Annas untuk mengembangkan media yang lebih dekat dengan masyarakat daerah.

“Saya percaya Subang memiliki banyak cerita, potensi dan persoalan yang layak diketahui publik. Media lokal punya peran penting untuk mengangkat semua itu,” katanya.

Melalui TINTAHIJAU.COM, Annas mengembangkan pemberitaan yang mencakup berbagai isu, mulai dari pemerintahan, politik, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, hukum hingga potensi masyarakat dan daerah.

Selain menjalankan profesi sebagai wartawan, Annas juga aktif dalam kegiatan literasi jurnalistik. Ia kerap diundang menjadi pemateri dalam diskusi, workshop dan seminar jurnalistik untuk mahasiswa, pelajar maupun kalangan pesantren.

Pengalaman sebagai tenaga pengajar di Darunnajah turut menjadi bekal dalam aktivitas tersebut. Annas tidak hanya berbagi mengenai teknik jurnalistik, tetapi juga mendorong pentingnya etika, verifikasi dan tanggung jawab dalam mengelola informasi.

Ia juga aktif dalam kampanye literasi dan pemanfaatan digitalisasi. Menurutnya, perkembangan teknologi harus diikuti kemampuan masyarakat dalam memilah informasi.

“Teknologi membuat informasi semakin mudah didapatkan. Tetapi masyarakat juga harus memiliki kemampuan literasi agar tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” ujarnya.

Annas juga terlibat dalam pengembangan LapakSubang.com, platform digital yang diarahkan untuk membantu pelaku UMKM lokal memperluas akses pasar.

Lebih dari dua dekade berada di dunia jurnalistik membuat Annas mengalami perubahan industri pers, dari media cetak hingga media online dan media sosial.

Namun, ia menilai perubahan teknologi tidak boleh menggeser prinsip dasar jurnalistik.

“Teknologi dan cara orang mendapatkan informasi terus berubah. Tetapi prinsip dasarnya tidak boleh berubah. Berita harus berdasarkan fakta, diverifikasi dan bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Dari lingkungan pesantren hingga dunia pers, perjalanan Annas Nashrullah kini berlanjut di Kabupaten Subang. Nilai pendidikan, pengalaman mengajar dan perjalanan jurnalistik menjadi bekal dalam membangun media lokal sekaligus mendorong literasi dan pemanfaatan digitalisasi di masyarakat.